Jumat, 10 Desember 2010
W.A.R.N.A
Merah Jambu
Itu Cinta
Biru
Hijau
Itu Damai
Jingga
Kuning
Itu Ceria
Nila
Ungu
Itu Anggun
Hitam
Putih
Itu Hatimu!
For Your Info: Especially for You Girls!
Bagaimana Cara Mengetahui Lolos-Tidaknya Tim ke Final
Like you know, Indonesia akan bertanding 2 leg (home-away/kandang-tandang) melawan Filipina di semifinal Piala AFF 2010. Kalau dua kali main, bagaimana kita bisa tau siapa yang akan masuk final? Beginilah cara menghitungnya.
Ingat:
Menang = 3 poin
Seri = 1 poin
Kalah = 0 poin
Contoh:
1. Leg 1 (home)
Filipina 1 vs 0 Indonesia
Maka, Filipina = 3 poin & Indonesia = 0 poin
2. Leg 2 (away)
Indonesia 2 vs 0 Filipina
Maka, Indonesia = 3 poin, Filipina = 0 poin
Lho, poinnya jadi sama 3-3, siapa yang masuk final donk? Ayo kita lihat agregat (selisih gol) nya.
| | Hasil Pertandingan | |
| | Indonesia | Filipina |
| Leg 1 | 0 | 1 |
| Leg 2 | 2 | 0 |
| Agregat | 2 | 1 |
Jreng-jreng! Indonesia yang berhak maju ke final karena selisih gol lebih banyak dari Filipina. Amin…
Selamat menikmati pertandingan girls!
INDONESIA! Prok Prok, Prok Prok Prok!
Rabu, 08 Desember 2010
Sabtu, 09 Oktober 2010
Woman’s Position in Politic on Islam
How Islam talks about the leadership of woman in politic, especially when Megawati was elected to be the president on 1999 Election. I think that is only a change of our politic. So, the topic is not theological but it is only political subject. It proves that our Islamic life has dominated and involves to our politic. Al-Qur’an tells about Prophet Sulaiman and Queen Bilqis. And then, Al-Azhar University was founded by Fathimiyah Dynasty, the last daughter of Prophet Muhammad because in the past, a dynasty was led by a queen and queen is a woman.
I think there is no barrier in Indonesia about woman mobility in anything subject : education, politic, economy, etc. Case of Megawati cannot be based on fiqh (one of rule in Islam). It is very political. For me, it will be more questionable if the female president is Zakiah Darajat or another woman muslim activist. Is MUI or muslim society give same respond to Megawati? Every citizen, man or woman, good moslem not has same opportunity or challenge to get position in politic. Maybe men could be more firm than women but we can find a firm woman like Sri Mulyani and a soft man like Susilo Bambang Yudhoyono. Female politician can be more careful but it depends on their selves.
Friendship
MEMBUAT SINOPSIS DAN MENGANALISA BUKU “MEMBONGKAR GURITA CIKEAS”
Sinopsis
Belum reda kontroversi penonaktifan Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani terkait skandal Bank Century, kini muncul lagi kontroversi yang tak kalah hebohnya. Setelah kontroversi jilid satu melanda wapres dan menteri, kontroversi jilid dua menimpa Presiden SBY.
Kontroversi dipantik oleh buku “Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century” karya George Aditjondro yang mengkritisi yayasan-yayasan di sekitar SBY. Ada dugaan aliran dana yang tidak jelas mengalir ke yayasan tersebut sehingga perlu dilakukan audit independen.
Dugaan George bukannya tak berdasar. Dalam struktur kepengurusan beberapa yayasan, terdapat sejumlah nama yang pernah dan masih aktif di lingkungan BUMN. Selain itu, sokongan dana dari pengusaha hitam juga sempat dikabarkan masuk ke salah satu yayasan.
Dengan melakukan audit pada yayasan seperti Yayasan Puri Cikeas, Yayasan Mutu Manikam Nusantara, Majelis Dzikir SBY, dan Yayasan Kepedulian dan Kesetiakawanan, maka publik bisa tahu berapa besar dana yang masuk serta darimana sumbernya. Termasuk juga adanya dugaan dana dari LKBN Antara yang masuk ke tim kampanye SBY.
George mengklaim, masih banyak data yang belum ia ungkap di dalam buku terkait sumber dana kampanye SBY. Ia juga menyayangkan pihak KPU dan Bawaslu yang tidak meneliti secara mendalam tentang tim kampanye dan dana kampanye yang digunakan SBY.
Analisis
Membongkar Gurita Cikeas menjadi buku yang sangat populer belakangan ini. Mengapa? Saat masyarakat tengah fokus pada pemberitaan seputar Bank Century, sang penulis George Junus Aditjondro membeberkan data-data baru perihal bank yang telah berganti nama menjadi Mutiara Bank tersebut lewat sudut pandang yang berbeda yaitu, mengaitkannya dengan seluruh kegiatan yang berpusat di Cikeas, kediaman pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Buku ini bukanlah buku akademik, melainkan buku populer yang sarat akan asumsi penulis sehingga tidak dapat dijadikan refensi dalam menulis karya ilmiah. Hal ini dibuktikan dengan tulisan George Junus Aditjondro ini mengarah pada tuduhan, baik itu tersirat maupun tersurat, sebagaimana yang telah lama kita ketahui beliau sedikit berani dalam berbicara seputar ketidakpuasannya terhadap pemerintah.
Pada bagian awal bukunya, George mempertanyakan reaksi SBY yang dinilai tebang pilih saat mengetahui namanya dicatut dalam rekaman pembicaraan yang mengindikasikan kriminalisasi terhadap Bibit Samad Rianto dan Chandra M.HamzaH. Beliau membandingkannya dengan kasus Zaenal Maarif yang dilaporkan Presiden karena menyebarkan fitnah bahwa sebelum menjadi taruna di Akademi Militer, SBY telah menikah dan memiliki anak perempuan serta menjadi wali dalam pernikahan anaknya tersebut.
Dalam suatu wawancara dengan Juru Bicara Kepresidenan saat itu Dino Patti Djalal di Kantor Presiden (27/10), Presiden menegaskan bahwa tidak pernah ada pembicaraan kepada siapapun mengenai posisi Wakil Jaksa Agung. Lewat juru bicaranya Presiden SBY kembali menegaskan itu adalah aksi pencatutan nama oleh orang yang diberitakan menyatakan itu dalam rekaman dan sama sekali tidak benar. Presiden mengharapkan masyarakat tak terpengaruh pada berita pencatutan nama itu.1
Nah, berbeda konteksnya bukan? Saya pikir rekaman tersebut adalah pembicaraan dua orang secara pribadi dan kebetulan disadap serta diperdengarkan dalam sidang, sehingga orang-orang yang namanya dicatut tidak bisa memberikan klarifikasi. Sedangkan Zaenal Maarif saat itu terang-terangan berbicara di depan media, sehingga mantan anggota DPR yang dulu digadang-gadang menjadi menteri agama tersebut harus meminta maaf secara tertulis kepada SBY di sejumlah media cetak nasional.
Secara keseluruhan, yang patut diacungi jempol adalah 80% tulisannya mengandung kebenaran. Selebihnya ada yang sangat saya sayangkan mengenai Grup Sampoerna yang disebut-sebut sebagai penyokong dana kampanye partai Demokrat. Penulis seharusnya jangan menggunakan kata Grup Sampoerna. Karena yang ada hanya PT Sampoerna Tbk. Grup Sampoerna mengarah pada definisi seluruh anggota keluarga Sampoerna.
Pada bagian tengah buku, penulis membeberkan fakta-fakta yang mencengangkan kita semua. Beliau mengaitkan yayasan-yayasan keagamaan dan sosial yang berafiliasi dengan SBY ada kaitannya dengan mobilisasi politik dan ekonomi orang nomor satu negeri ini.
Setelah membaca lebih jauh, pastilah kita ikut merasa perihatin sekaligus bertanya-tanya. Benarkah sebagian anggaran Negara digunakan untuk kepentingan yayasan sebagai kendaraan politik dan ekonominya. Terlalu dini sekali kita berasumsi demikian.
Salah satu yayasannya adalah Majelis Dzikir Nurussalam oleh Yayasan Majelis Dzikir Nurussalam yang melibatkan beberapa pejabat Negara dalam struktur organisasinya. Dalam benak saya, apa salahnya para pejabat menjabat posisi stategis di yayasan tersebut? Bukankah sebuah yayasan apalagi yayasan sosial sewajarnya mendapatkan dana sumbangan dari donator tetap, hibah ataupun sumbangan dari pemerintah? Nah, yang sama-sama kita takuti adalah dana yayasan tercampur dengan anggaran Negara. Itulah yang juga dipikirkan George Junus Aditjondro, sang penulis buku fenomenal Membongkar Gurita Cikeas.
Sebuah yayasan –yayasan manapun, bila sesuai prosedur mengajukan proposal kepada pemerintah perihal bantuan dana, berhak mendapatkannya. Asalkan menjabarkan untuk kepentinga apa saja dana tersebut secara jelas dan terbuka.
Penulis telah menjabarkan secara mendetail, apa saja visi dan misi, bentuk kegiatan, dan bantuan-bantuan yang telah diberikan lewat yayasan-yayasan yang berafiliasi dengan SBY. Salah satunya adalah Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian yang memiliki tujuan memberi bantuan sosial dan kemanusiaan kepada seniman dan olahragawan yang berjasa dan berprestasi serta kaum dhuafa, korban bencana alam, dan kelompok masyarakat marjinal yang belum tersentuh program bantuan yang ada. Apa saja bentuk bantuannya, baik itu materi maupun moril telah kita baca sama-sama. Patutkah kita iri kepada mereka yang menerima bantuan bila benar-benar terungkap bahwa yayasan tersebut memakai uang Negara? Sungguh ironis.
Terakhir dari saya adalah buku ini memiliki strategi pemasaran yang baik, dengan embel-embel judul Di Balik Skandal Bank Century. Pada kenyataannya, isi yang menceritakan perihal Bank Century hanya berkisar 30 persen saja.
Kenyataan bahwa George memakai data sekunder atau tidak bukan masalah karena data yang telah ditulis media menjadi data yang dapat dipertanggung jawabkan.
Liburan Seru di Kaki Gunung Semeru
Perjalanan saya menuju Kalibening bukanlah perjalanan biasa. Berangkat dari Jakarta, saya beserta om, tante, sepupu, dan saudara jauh mama saya, menggunakan mobil untuk pulang ke kampung halaman kami. Kalau kamu bertanya jalur apa yang kami gunakan, pantura atau jalur selatan, bisa dibilang kami memakai kedua-duanya. Dengan berbekal ingatan dan peta mudik dari salah satu operator seluler, kami berangkat ke sana. Satu lagi, Mas Dedi anak sepupu mama saya adalah mantan supir truk yang biasa melewati jalur-jalur alternatif lintas propinsi di Pulau Jawa.
Sembilan hari di sana sudah cukup memberikan banyak pengalaman yang menyenangkan. Ada banyak tempat-tempat indah yang tidak akan saya dapatkan di kota. Alamnya yang masih hijau, hamparan sawah dan kebun, tebung-tebing tinggi, serta liukan sungai yang mengalir deras, semuanya indah di mata saya.
Saya telah mengunjugi banyak tempat selama liburan. Saya pernah ke pasar dekat Terminal Gadang, Malang hanya untuk ngabuburit dan menunggu bus menuju Lumajang. Di sana saya memperhatikan proses tawar-menawar harga menggunakan bahasa Jawa. Di lain hari, saya berkekreasi ke Waduk Karangkates setelah pulang dari Blitar menuju Lumajang. Saat hendak balik ke Lumajang, kami mampir sejenak ke Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Saya sangat kagum dengan Stadion kebanggaan arek Malang itu.
Mungkin memang benar, Arema Indonesia adalah klub terbaik saat ini. Lihat seperti apa denyut perekonomian di dalam lingkungan stadion. Saya langsung membayangkan bagaimana mereka membiayai operasional Kanjuruhan, markas Singo Edan –julukan Arema. Kios-kios yang tertata rapi di sana menjual pernak-pernik resmi klub maupun pernak-pernik produkan distro. Selain itu, halaman luar stadion yang luas digunakan untuk arena lintasan balap motor yang diadakan rutin di luar musim kompetisi Liga Super Indonesia.
Ada juga spot-spot tertentu yang digunakan untuk hiburan dan rekreasi maupun pendidikan seperti taman lalu lintas, kolam renang serta taman bermain anak selayaknya pasar malam. Mencari makanan pun tak susah. Ada banyak gerobak yang menjual bakso Malang dan makanan lainnya yang berseliweran di sekitar halaman stadion. Jangan lupa cicipi sate 02, sebutan untuk sate bekicot.
Liburan kali ini adalah liburan dan lebaran pertamaku di desa tanpa orang tua. Banyak kebiasaan-kebiasaan di sini yang berbeda dengan yang saya alami saat berlebaran bersama orang tua. Contohnya, Idul Fitri di sini tidak ada ketupat ataupun lontong. Mereka baru masak secara besar-besaran pada H+7 setelah lebaran.
Saya baru bertemu dengan orang tua pada H+3 Idul Fitri. Mereka sebelumnya pergi ke Sumedang untuk berziarah ke makam orang tua papa. Tak lupa saya melepas kangen dan bermaaf-maafan dengan mereka.
Sehari setelah kedatangan orang tua saya, kami beserta rombongan keluarga besar jalan-jalan ke sebuah jembatan di Lumajang yang terkenal karena sungai di bawahnya biasa dilewati aliran lahar dingin saat Gunung Semeru meletus. Jalan menuju jembatan tersebut berkelok-kelok dengan jurang di sampingnya. Jika kamu tak terbiasa dengan jalanan seperti itu, mungkin kamu akan merasa mual dan pusing. Saya sangat menikmati pemandangan yang terhampar indah walau rasa mual masih terasa.
Tak terasa waktu liburan saya sudah hampir habis. Saya harus berkemas-kemas untuk kembali ke Jakarta. Walaupun saya hanya bertemu dengan orang tua selama beberapa hari, saya sudah cukup senang. Saya tidak cemas tidak bertemu lagi dengan mereka karena liburan yang akan datang saya pasti akan pulang ke Batam.
Perjalanan pulang yang kami tempuh sepenuhnya lewat jalur utara. Kami sempat beberapa kali berhenti untuk istirahat di Semarang, Pekalongan, Indramayu, Tol Mertapada di Cirebon, dan terakhir di Tol Cikampek. Perjalanan ini jauh lebih santai, bahkan menempuh waktu lebih dari 24 jam saking seringnya kami berhenti untuk istirahat.
Banyak hal-hal baru yang saya dapatkan di sana. Baik itu kebiasaan masyarakatnya, tempat-tempat indahnya, sampai orang-orang yang baru saya kenal. Saya tidak akan menolak jika diajak berlibur ke sana lagi.